Tidak terlalu sulit sebenarnya untuk
dapat memahami apa itu fotografi jurnalistik. Karena hari ini kegiatan
fotografi bukan lagi sebuah kegiatan yang dilakukan beberapa orang saja.
Perkembangan tekhnologi mampu membuat fotografi semakin mudah
dipelajari dan dipergunakan. Mulai dari hand phone berkamera sampai pada
kamera digital SLR (Single Lens Reflex) dibuat untuk semakin mudah
digunakan.
Semakin familiarnya kita dengan
fotografi, membuat kita sedikit banyak mengerti tentang, bilamana kita
harus menjepret. Ya, terkadang kita merasa perlu menjepretkan kamera
yang ada di tangan kita, ketika berada dikondisi atau moment yang kita
rasa penting untuk diabadikan. Entah itu saat kita berpetualang bersama
sahabat, pacar, saat perpisahan, pernikahan, sampai pada ketika diri
kita merasa paling tampan atau cantik tidak luput dari jepretan kamera.
Begitupula dengan fotografi jurnalistik,
menjepret suatu moment yang penting untuk disampaikan pada khalayak
umum. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sering kita jepret biasanya,
cuman yang membedakan, kalau yang kita jepret biasanya lebih untuk
kepentingan individu dan bebrapa orang saja redangkan foto jurnalistik
penting untuk di ketahui khalayak umum. Persis! Seperti apa yang telah
diungkapkan Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka di dunia Magnum,
bahwa fotografi jurnalistik berkisah dengan gambar, melaporkannya
dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya
berlangsung saat citra tersebut mengungkapkan sebuah cerita.
Dari sini jelaslah bahwa fotografi
jurnalistik tidak hanya sekedar foto yang asal jepret, harus ada pesan
didalamnya. Seperti apa yang dikatakan Wilson Hicks, seorang editor majalah life, bahwa
foto jurnalistik adalah gabungan antara kata dan gambar. Maka itu
sebuah foto juranlistik tidak mampu berdiri sendiri. Harus ada
teks/caption yang mendampinginya. Sederhananya begini, kalau tulisan
berita memuat 5w+1h bukankah berarti foto jurnalistik juga seperti itu?
Lalu mungkinkah sebuah foto mampu mengcover 5w+1h? Tentu saja tidak
mungkin! Oleh karenanya keberadaan teks/caption perlu diadakan untuk
lebih memudahkan pembaca dalam memahami foto yang ditampilkan.
Pernah suatu kali di tahun 2007, saya
mengikuti klinik fotografi jurnalistik yang diadakan Jurnalistik
Fotografi Club (Jufoc) Unmuh malang yang berkerjasama dengan kompas.
Arbain Rambey fotografer senior kompas yang saat itu menjadi pemateri.
Dalam acara itu Arbain Rambey berujar, kalau wartawan mencatat dengan
tulisan, maka pewarta foto mencatat dengan kamera. Ya! menulis dengan
cahaya adalah inti dari sebuah fotografi jurnalistik.
Nah, seperti itulah gambaran secara umum
tentang fotografi jurnalistik. Sekarang tinggal bagaimana kita mampu
memilah dan memilih suatu moment yang dirasa penting untuk disampaikan
pada khalayak umum. Apalagi kita menyandang status sebagai pers
mahasiswa, tentu, harus mampu menampilkan sebuah foto yang mampu membawa
pesan menggerakkan, memicu tuk mencapai sebuah kata perubahan! Bukan
tidak mungkin hal tersebut dilakukan oleh kita, karena fotografi adalah
seni memotong realitas tiga dimensi menjadi imaji dua dimensi yang
terbatas. Realitas fotografi menjadi menarik karena dia terbatas dan
menyimpan sudut pandang pemotretnya, kata bang Arbain.[AR]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar