Rabu, 16 Mei 2012

Fotografi Jurnalistik

Tidak terlalu sulit sebenarnya untuk dapat memahami apa itu fotografi jurnalistik. Karena hari ini kegiatan fotografi bukan lagi sebuah kegiatan yang dilakukan beberapa orang saja. Perkembangan tekhnologi mampu membuat fotografi semakin mudah dipelajari dan dipergunakan. Mulai dari hand phone berkamera sampai pada kamera digital SLR (Single Lens Reflex) dibuat untuk semakin mudah digunakan.
Semakin familiarnya kita dengan fotografi, membuat kita sedikit banyak mengerti tentang, bilamana kita harus menjepret. Ya, terkadang kita merasa perlu menjepretkan kamera yang ada di tangan kita, ketika berada dikondisi atau moment yang kita rasa penting untuk diabadikan. Entah itu saat kita berpetualang bersama sahabat, pacar, saat perpisahan, pernikahan, sampai pada ketika diri kita merasa paling tampan atau cantik tidak luput dari jepretan kamera.
Begitupula dengan fotografi jurnalistik, menjepret suatu moment yang penting untuk disampaikan pada khalayak umum. Tidak jauh berbeda dengan apa yang sering kita jepret biasanya, cuman yang membedakan, kalau yang kita jepret biasanya lebih untuk kepentingan individu dan bebrapa orang saja redangkan foto jurnalistik penting untuk di ketahui khalayak umum. Persis! Seperti apa yang telah diungkapkan Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka di dunia Magnum, bahwa fotografi jurnalistik berkisah dengan gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya berlangsung saat citra tersebut mengungkapkan sebuah cerita.
Dari sini jelaslah bahwa fotografi jurnalistik tidak hanya sekedar foto yang asal jepret, harus ada pesan didalamnya. Seperti apa yang dikatakan Wilson Hicks, seorang editor majalah life, bahwa foto jurnalistik adalah gabungan antara kata dan gambar. Maka itu sebuah foto juranlistik tidak mampu berdiri sendiri. Harus ada teks/caption yang mendampinginya. Sederhananya begini, kalau tulisan berita memuat 5w+1h bukankah berarti foto jurnalistik juga seperti itu? Lalu mungkinkah sebuah foto mampu mengcover 5w+1h? Tentu saja tidak mungkin! Oleh karenanya keberadaan teks/caption perlu diadakan untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami foto yang ditampilkan.
Pernah suatu kali di tahun 2007, saya mengikuti klinik fotografi jurnalistik yang diadakan Jurnalistik Fotografi Club (Jufoc) Unmuh malang yang berkerjasama dengan kompas. Arbain Rambey fotografer senior kompas yang saat itu menjadi pemateri. Dalam acara itu Arbain Rambey berujar, kalau wartawan mencatat dengan tulisan, maka pewarta foto mencatat dengan kamera. Ya! menulis dengan cahaya adalah inti dari sebuah fotografi jurnalistik.
Nah, seperti itulah gambaran secara umum tentang fotografi jurnalistik. Sekarang tinggal bagaimana kita mampu memilah dan memilih suatu moment yang dirasa penting untuk disampaikan pada khalayak umum. Apalagi kita menyandang status sebagai pers mahasiswa, tentu, harus mampu menampilkan sebuah foto yang mampu membawa pesan menggerakkan, memicu tuk mencapai sebuah kata perubahan! Bukan tidak mungkin hal tersebut dilakukan oleh kita, karena fotografi adalah seni memotong realitas tiga dimensi menjadi imaji dua dimensi yang terbatas. Realitas fotografi menjadi menarik karena dia terbatas dan menyimpan sudut pandang pemotretnya, kata bang Arbain.[AR]

Tidak ada komentar: